Liputanmetrosumut.com || Batu Bara – Proyek pembangunan ruang kelas di SMK Negeri 1 Medang Deras, Desa Nanasiam, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, menuai sorotan tajam publik. Pekerjaan yang baru berjalan sekitar 5 persen sudah menimbulkan banyak pertanyaan soal kualitas dan transparansi proyek yang menelan biaya Milyaran rupiah.
Hasil pantauan sejumlah media saat melakukan kontrol sosial pada Rabu (15/10/2025) mengungkapkan adanya indikasi ketidaksesuaian konstruksi di lapangan. Pondasi batu padas yang dipasang terlihat berlubang, rapuh, dan jauh dari standar mutu, bahkan proses pengecoran disebut memakai material bekas seperti bambu, broti, dan papan daur ulang.

Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa proyek tersebut dikerjakan asal – asalan demi mengejar keuntungan besar, tanpa memperhatikan standar keamanan maupun mutu bangunan yang akan digunakan untuk kegiatan belajar siswa.
Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Medang Deras, Ade, mengaku tidak mengetahui secara rinci proses pelaksanaan proyek tersebut.
“Saya hanya menerima kunci, soal teknis silakan tanya ke pengawasnya,” ujar Ade singkat saat ditemui wartawan Liputan Metro Sumut di lokasi.

Temuan ini langsung menimbulkan reaksi publik yang menuntut Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Inspektorat, hingga Kejaksaan Negeri Batu Bara untuk turun tangan dan menyelidiki dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Kalangan pemerhati pendidikan menilai, pembangunan ruang kelas seharusnya menjadi upaya meningkatkan kualitas belajar, bukan justru menjadi ajang permainan anggaran yang berpotensi merugikan masyarakat.
Jika benar terbukti ada pelanggaran, publik mendesak agar pihak terkait menindak tegas kontraktor maupun pengawas proyek yang lalai menjalankan tugasnya.
“Bangunan pendidikan itu harus kokoh dan layak, bukan jadi simbol proyek asal jadi,” tegas salah satu aktivis pemerhati kebijakan publik di Batu Bara.
(M.Kus.Arfandi)
Editor : Redaksi
www.liputanmetrosumut.com

















