Liputanmetrosumut.com || Sibolga – Wajah pendidikan yang seharusnya mencerminkan ketertiban dan kenyamanan justru tampak kontras di SMA Negeri 3 Sibolga yang berada di Jl. Letjen R. Suprapto No. 65, Kelurahan Pancuran Gerobak, Kecamatan Sibolga Kota, Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara. Dari halaman hingga sudut dalam bangunan, sejumlah kondisi yang terpantau memperlihatkan indikasi kurangnya pengelolaan fasilitas yang layak, memunculkan tanda tanya besar tentang standar lingkungan belajar di sekolah tersebut.Selasa(21/04/2026)
Di area luar, halaman sekolah terlihat tidak tertata optimal. Rumput tumbuh tidak merata, sementara beberapa bagian tampak kurang terawat. Di salah satu sudut, terlihat benda-benda bekas seperti kayu dan material lain yang dibiarkan begitu saja, seolah tidak menjadi perhatian serius pihak pengelola. Kondisi ini tentu berpotensi mengganggu estetika sekaligus kenyamanan siswa.
Tak hanya itu, akses menuju bangunan juga menunjukkan ketidakteraturan. Jalur masuk terlihat seadanya, dengan beberapa bagian yang tampak tidak rapi dan kurang aman. Hal ini menimbulkan kesan bahwa perawatan fasilitas fisik belum menjadi prioritas utama, padahal aspek tersebut penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.
Sorotan paling mencolok justru ditemukan di dalam ruangan yang tidak semestinya digunakan sebagai tempat penyimpanan dokumen. Tumpukan berkas dalam jumlah besar terlihat disimpan di area yang menyerupai toilet atau ruang sanitasi, bahkan terdapat tulisan “Toilet Khusus Guru” di dinding. Kondisi ini jelas memprihatinkan, mengingat dokumen sekolah merupakan arsip penting yang seharusnya disimpan dengan standar keamanan dan kebersihan yang memadai.
Lebih jauh, keberadaan peralatan seperti gerobak dorong dan perlengkapan kebersihan yang bercampur dengan dokumen penting memperlihatkan minimnya sistem penataan. Tidak hanya berisiko merusak arsip, kondisi ini juga mencerminkan lemahnya manajemen internal dalam pengelolaan aset sekolah.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran akan standar administrasi dan tata kelola di lingkungan sekolah. Jika dokumen penting saja tidak ditempatkan secara layak, publik tentu berhak mempertanyakan bagaimana pengelolaan aspek lain, termasuk kegiatan belajar mengajar maupun penggunaan anggaran.
Sejumlah pihak menilai, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Lingkungan sekolah adalah cerminan kualitas pendidikan. Ketika fasilitas fisik dan administrasi tampak tidak tertata, maka dampaknya bisa meluas hingga ke kualitas proses pendidikan itu sendiri.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah terkait kondisi tersebut. Namun, masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh serta langkah konkret untuk melakukan pembenahan. Transparansi dan tanggung jawab menjadi kunci agar kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tetap terjaga.
Sorotan terhadap SMA Negeri 3 Sibolga ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan dan tata kelola mendukung terciptanya generasi yang berkualitas. Jika masalah mendasar seperti ini tidak segera dibenahi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar citra sekolah, melainkan masa depan para siswa itu sendiri.
(Red)
Editor : Redaksi
www.liputanmetrosumut.com

















