Liputanmetrosumut.com || Simalungun – P. Raya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Yayasan Bangun Bangsa, Teguh Sinaga di Kabupaten Simalungun kembali menuai sorotan. Satgas MBG yang juga dipimpin oleh Wakil Bupati Simalungun dinilai kurang memberikan perhatian serius terhadap kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.(21/04/2026)
Sorotan ini mencuat setelah adanya temuan di lapangan terkait menu dari dapur MBG di lingkungan V kelurahan Sondi, Hapoltakan ,kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun yang disebut-sebut bermasalah selama dua minggu berturut-turut. Sejumlah siswa-siswi dari beberapa sekolah mengeluhkan porsi dan kualitas lauk yang dinilai jauh dari standar gizi yang layak.
“Daging ayam yang disajikan terlalu kecil, sementara ikan nila yang diberikan bahkan masih bersisik dan ukurannya juga tidak layak,” ungkap beberapa siswa-siswi dari sekolah yang berbeda yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya praktik pengurangan porsi oleh oknum tertentu, baik dari pihak suplayer maupun tenaga ahli gizi yang bertanggung jawab dalam penyusunan menu. Selain itu, aspek kebersihan makanan juga menjadi perhatian serius, mengingat program ini menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan sehat dan higienis.
Upaya konfirmasi kepada pihak terkait justru menimbulkan tanda tanya. Saat dikonfirmasi, pihak suplayer dengan tenang menyatakan agar hal tersebut ditanyakan langsung ke dapur. Sementara itu, ketika tenaga ahli gizi dihubungi, yang bersangkutan tidak merespons dan tidak mengangkat telepon meskipun dalam kondisi aktif.
Sikap tersebut semakin memperkuat dugaan adanya indikasi permainan antara pihak suplayer dan tenaga ahli gizi dalam pengelolaan menu MBG. Jika benar, hal ini tidak hanya mencederai tujuan program, tetapi juga berpotensi merugikan kesehatan siswa demi kepentingan keuntungan pribadi.
Minimnya pengawasan dari Satgas MBG Simalungun pun menjadi sorotan utama. Publik mempertanyakan komitmen dan keseriusan pihak terkait dalam memastikan program ini berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Masyarakat berharap Satgas MBG segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur MBG di Hapoltakan. Teguran keras hingga sanksi tegas dinilai perlu diberikan kepada pihak-pihak yang terbukti lalai atau sengaja melakukan pelanggaran.
“Jangan sampai orang tua siswa turun langsung melakukan protes. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” tegas sumber tersebut.
Program MBG sejatinya merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda. Namun tanpa pengawasan ketat dan integritas pelaksana di lapangan, program ini justru berpotensi menjadi ladang penyimpangan.
Kini, publik menunggu langkah nyata dari Satgas MBG Simalungun—apakah akan bertindak tegas atau membiarkan persoalan ini terus berlarut.Hingga berita ini di layangkan ke meja redaksi belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.
(Red)
Editor : Redaksi
www.liputanmetrosumut.com

















