Liputanmetrosumut.com || Ogan Ilir – Dunia jurnalisme di Kabupaten Ogan Ilir kembali tercoreng. Seorang wartawan media online, Suharman, warga Desa Sentul, Kecamatan Lubuk Keliat, diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekitar 40 orang tak dikenal pada Selasa malam, 5 November 2025.
Peristiwa itu terjadi di wilayah Desa Embacang, Kecamatan Lubuk Keliat. Korban ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri dengan luka parah di bagian wajah, mata, dan perut. Ia sempat mendapat perawatan di Puskesmas Tanjung Batu sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Aroyan karena kondisinya yang mengkhawatirkan.
Warga setempat menyebut, bekas tendangan dan injakan terlihat jelas di tubuh korban. Kepala Desa Sentul membenarkan bahwa Suharman merupakan warganya, namun belum bisa memberikan keterangan lebih jauh karena korban masih belum bisa diajak bicara.
Hingga kini, Polres Ogan Ilir belum mengeluarkan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut. Ketiadaan respons cepat dari aparat penegak hukum memunculkan pertanyaan di kalangan publik dan rekan sejawat korban.
“Ini bukan sekadar kasus penganiayaan biasa. Ini serangan terhadap kebebasan pers,” ujar salah satu jurnalis senior di Ogan Ilir saat dihubungi TRIBNETWORK. “Kalau aparat diam, maka pesan yang muncul jelas: jurnalis tidak aman di negeri sendiri.”
Insiden ini menuai kecaman luas dari berbagai kalangan pers. Mereka menilai tindakan kekerasan terhadap wartawan adalah bentuk ancaman terhadap hak masyarakat untuk mendapat informasi yang benar.
Redaksi TRIBNETWORK mendesak Kepolisian Resor Ogan Ilir segera mengusut tuntas kasus ini secara profesional, menangkap para pelaku, dan memastikan tidak ada intimidasi terhadap korban maupun saksi.
Kekerasan terhadap wartawan tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan. Pers bukan musuh negara, tetapi mitra rakyat dalam mengawasi jalannya pemerintahan.
(Mariana.Sinurat)
Editor : Redaksi
www.liputanmetrosumut.com

















