Liputanmetrosumut.com || Simalungun – Purba – Ada keluhan masyarakat yang tidak lahir sehari atau dua hari. Ada keresahan yang dipendam bertahun-tahun, menunggu perhatian pemerintah datang menyentuh persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Kondisi itulah yang kini dirasakan masyarakat Nagori Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Jalan menuju nagori tersebut dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah dan sudah bertahun-tahun belum tersentuh pengaspalan.
Bagi warga, jalan bukan sekadar jalur untuk keluar-masuk nagori. Jalan menjadi urat nadi kehidupan: dilalui anak-anak menuju sekolah, warga menjalankan aktivitas sehari-hari, hingga menjadi akses utama untuk mengangkut hasil pertanian.
Namun, kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan warga berubah menjadi perjuangan tersendiri.
Pantauan di lapangan, Minggu (30/8/2026), sejumlah bagian jalan tampak dipenuhi lubang dan bebatuan berukuran besar. Kondisi tersebut semakin menyulitkan pengendara, khususnya kendaraan roda dua.
Ketika hujan turun, kondisi jalan berubah drastis. Lubang-lubang jalan dipenuhi genangan air sehingga menyerupai kubangan. Pengendara harus ekstra hati-hati memilih jalur agar tidak terperosok maupun kehilangan keseimbangan.

Tidak sedikit pula warga yang mengaku khawatir terhadap keselamatan pengendara, terutama sepeda motor yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, persoalan berganti. Jalan yang kering menghasilkan debu tebal. Debu semakin beterbangan ketika kendaraan roda empat maupun truk melintas, sehingga warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar jalan harus menghirup udara bercampur debu.
Bagi masyarakat, dua musim seolah menghadirkan dua persoalan yang berbeda: hujan membawa kubangan, kemarau membawa debu.
Salah seorang warga Hinalang, A. Sipayung, mengungkapkan keresahannya terkait kondisi jalan tersebut.
Menurutnya, kerusakan jalan sudah berlangsung cukup lama dan masyarakat berharap pemerintah memberikan perhatian serius.
“Jalan ini cukup parah dan sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi tersentuh aspal. Kalau hujan, air tergenang di mana-mana seperti kubangan kerbau,” ungkap A. Sipayung kepada awak media, Minggu (30/8/2026).
Ia menilai kondisi tersebut tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut. Pasalnya, jalan tersebut merupakan salah satu akses penting bagi masyarakat Hinalang.
Selain digunakan untuk aktivitas sehari-hari, jalan tersebut juga menjadi jalur keluar-masuk kendaraan yang mengangkut hasil pertanian masyarakat.
“Jalan ini perlintasan utama masyarakat. Hasil pertanian dari Hinalang juga diangkut melalui jalan ini. Kami sangat berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Simalungun,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya bermarga Purba. Ia mengatakan, kerusakan jalan tidak hanya mengganggu aktivitas orang dewasa, tetapi juga berdampak terhadap anak-anak sekolah yang setiap hari menggunakan akses tersebut.
Menurutnya, saat hujan turun, genangan air muncul di sejumlah titik. Kondisi jalan yang berlubang dan dipenuhi bebatuan juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara sepeda motor.
“Kalau hujan banyak genangan air. Anak-anak sekolah juga terganggu. Sudah ada beberapa pengendara sepeda motor yang terjatuh karena kondisi jalan,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi gambaran betapa pentingnya pembenahan infrastruktur bagi masyarakat di wilayah pedesaan.
Sebab, pembangunan jalan bukan semata soal mulusnya permukaan aspal. Di balik jalan yang baik, ada akses pendidikan yang lebih aman, distribusi hasil pertanian yang lebih lancar, mobilitas masyarakat yang lebih mudah, serta roda perekonomian yang dapat bergerak lebih cepat.
Harapan Besar kepada Pemkab Simalungun
Masyarakat Nagori Hinalang kini berharap keluhan mereka tidak berhenti sebagai cerita dari tahun ke tahun.
Mereka menaruh harapan kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun, khususnya Bupati Simalungun H. Ahmad Anton Saragih, agar kondisi jalan menuju Nagori Hinalang mendapat perhatian dan penanganan yang serius.
Warga berharap pemerintah dapat mempercepat pembangunan maupun pengaspalan jalan tersebut sehingga masyarakat tidak lagi menghadapi persoalan yang sama setiap kali musim hujan dan kemarau datang.
Bagi masyarakat Hinalang, jalan yang layak bukanlah kemewahan. Jalan adalah kebutuhan dasar yang menentukan bagaimana mereka pergi ke sekolah, bekerja, membawa hasil pertanian, mendapatkan pelayanan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Kini, setelah bertahun-tahun menunggu, masyarakat hanya ingin satu hal: agar suara mereka sampai ke meja pemerintah dan tidak kembali hilang ditelan waktu.
Sebab, bagi warga Hinalang, jalan yang rusak mungkin hanya terlihat sebagai lubang dan bebatuan bagi orang yang melintas sesaat. Tetapi bagi mereka yang setiap hari melewatinya, setiap lubang adalah kesulitan, setiap genangan adalah risiko, dan setiap kepulan debu adalah bagian dari keresahan yang telah mereka rasakan selama bertahun-tahun.
(S.A.R.Siahaan-01)

















