BerandaUncategorizedKrisis Air Simantin : Anggaran Mengalir, Air Tetap Mati - Warga Duga...

Krisis Air Simantin : Anggaran Mengalir, Air Tetap Mati – Warga Duga Perbaikan Hanya Akibat Tekanan Media 

Liputanmetrosumut.com   ||  Simalungun – Krisis air bersih di Nagori Simantin, Kecamatan Pematang Sidamanik, hingga kini belum benar-benar teratasi. Meski sempat dikabarkan air mulai mengalir, fakta di lapangan menunjukkan kondisi masih jauh dari normal. Warga Dusun I dan II menyebut aliran air hanya sesekali muncul, itupun kecil dan tidak mencukupi kebutuhan. Senin 30/03/2026 informasi di dapat

 

Lebih ironis lagi, masyarakat menilai kondisi ini bukan hasil perbaikan serius, melainkan diduga akibat tekanan dari pemberitaan media yang belakangan gencar menyoroti persoalan tersebut.

 

“Air sudah lama mati. Mungkin sekarang sempat jalan karena banyak media yang memberitakan. Tapi ini belum normal,” ungkap warga.

 

Sumur Besar Tak Berfungsi, Warga Bergantung pada Bor Kecil

 

Sumber utama yang diharapkan, yakni sumur bor besar, hingga kini belum berfungsi. Informasi yang beredar menyebutkan mesin mengalami kerusakan dan masih dalam proses perbaikan di Pematangsiantar.

 

Namun hingga saat ini, tidak ada kejelasan kapan perbaikan selesai. Sementara itu, warga hanya mengandalkan satu bor kecil dengan debit air yang sangat terbatas.

Air bahkan hanya mengalir sekali dalam dua hari, itupun dengan tekanan kecil.

 

Fakta Anggaran: Puluhan Juta Sudah Digelontorkan

 

Di tengah kondisi tersebut, publik dihadapkan pada fakta anggaran yang cukup besar untuk program air bersih sejak 2024 hingga 2025.

 

Namun hingga kini, hasilnya tidak sebanding dengan realisasi di lapangan. Air bersih yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru masih sulit diakses.

 

Warga Tetap Dipaksa Membeli Air

Alih-alih menikmati fasilitas yang dijanjikan, warga justru harus membeli air setiap hari:

 

Rp3.000 per jirigen

 

Rp15.000 per drum

 

Padahal sebelumnya masyarakat juga telah dibebani biaya pemasangan dan iuran bulanan. Situasi ini memicu kemarahan dan kekecewaan warga.

 

“Sudah bayar, tapi air tidak ada. Sekarang malah harus beli lagi tiap hari,” keluh warga.

 

Indikasi Masalah Serius & Minim Transparansi

 

Kondisi ini mengarah pada dugaan adanya persoalan serius dalam tata kelola program air bersih, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan.

 

Minimnya transparansi membuat masyarakat semakin curiga: Apakah anggaran benar-benar digunakan sesuai peruntukan?

 

Mengapa hasilnya tidak dirasakan warga?

Inspektorat Disorot: Pengawasan Dipertanyakan

 

Peran Inspektorat Kabupaten Simalungun kini menjadi sorotan. Lembaga yang seharusnya menjadi garda pengawasan dinilai belum menunjukkan fungsi maksimal.

 

Hingga saat ini, belum ada penjelasan terbuka terkait evaluasi atau audit terhadap program air bersih di Simantin.

 

Kepemimpinan Daerah Ikut Dipertanyakan

Di tengah krisis yang berkepanjangan, publik juga mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani persoalan ini. Air bersih adalah kebutuhan dasar, bukan sekadar program administratif.

 

Air sempat mengalir, tapi bukan solusi.

Diduga bergerak karena disorot, bukan karena tanggung jawab. Sementara warga tetap bertahan dalam krisis.

(Red)

Editor : Redaksi

www.liputanmetrosumut.com 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments